Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, April 07, 2011

LAPORAN PENDAHULUAN DHF

LAPORAN PENDAHULUAN
DENGEU HEMORAGIC FEVER (DHF)

A. Definisi
Dengue adalah suatu infeksi
virus akut, suatu vector borne desease ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty suatu penyakit demam akut
(Ngastiyah, 1997)
disebabkan oleh virus masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk species Aedes Aegypty yang menyerang pada anak, remaja dan dewasa yang ditandai dengan: demam, nyeri otot dan sendi. Manifestasi pendarahan dan cenderung menimbulkan syok yang dapat menyebabkan kematian
( Hendaranto, 1997)

B. Etiologi
Hingga sekarang telah disiolasi 4 serotip di Indonesia yaitu DEN-1,DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. ternyata DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotip paling banyak penyebab sebagai penyebab Nimornitya,(1975) di thailand melaporkan bahwa serotip DEN-2 yang dominan dan di Indonesia terutam oleh DEN-3 walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi oleh virus DEN-2.
Disamping itu urutan infeksi serotip merupakan factor resiko karena > 20% urutan virus DEN-1, yang disusul DEN-2 menyebabkan renjatan sedangkan factor resiko terjadinya renjatan untuk urutan virus DEN-3 yang dikuti oleh DEN-2 adalah 6% dan DEN-4 yang diikuti DEN-2 adalah 2%, uremia berakhir 4-5 hari setelah timbulnya
(Rampengan dan Laurentz,2002) .
Derajad DHF Menurut WHO dibagi menjadi 4 Derajat :
Derajat 1 :
Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji Tourniquet positif
Derajat 2 :
Derajat 1 disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
Derajat 3 :
Ditemukannya kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin, lembab, dan penderita menjadi gelisah
Derajat 4 :
Renjatan berat dengan nadi yang tidak diraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur

C. Patofisiologi
Yang menentukan beratnya penyakit adalah :
• Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
• Menurunnya volume plasma darah
• Adanya hypotensi
• Trombositopeni
• Diatesis hemoragic
Pada autopsi penderita DHF yang meninggal, didapatkan adanya kerusakan sistim vaskuler dengan adanya peninggian permeabilitas diding pembuluh darah terhadap protein plasma dan efusi pada ruang serosa, di bawah peritonial, pleural dan perikardial.
Pada kasus berat, pengurangan volume plasma sampai 30 % atau lebih. Menghilangnya plasma melalui endotelium ditandai oleh peningkatan oleh peningkatan nilai hematokrit yang mengakibatkan keadaan hipopolemik dan shock, yang dapat menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik bahkan menyebabkan kematian.
Kerusakan dinding pembuluh darah bersifat sementara, dengan pemberian cairan yang cukup shock dapat diatasi dan efusi pleura biasanya menghilang setelah beberapa kali perawatan.
Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat pada saluran cerna, yang timbul setelah shock berlangsung lama dan tidak teratasi. Perdarahan ini disebabkan oleh trombositopeni serta gangguan fungsi trobosit disamping defisiensi ringan/sedang dari faktor I, II, V, VII, IX, X dan faktor kapiler.
Pada pemeriksaan sel-sel pagosit didapatkan peningkatan daya pagositosis dan proliferasi sistim retikolo enditetial yang berakibat penghancuran terhadap trombosit yang telah mengalami metamorfosis seluler sehingga nampak adanya trombositopeni.
Aktifasi sistim komplemen juga memegang peranan penting dalam patogenesis DHF , komplek imun biasanya ditemukan pada hari ke 5 sampai ke 7 saat terserang shock terjadi. Produksi aktivitas komplemen ini bersifat anafilaktoksin yang menyebabkan kerusakan dinding kapiler sehingga permeabilitas diding pembuluh darah meningkat.

D. Manifestasi klinik
1. Demam : demam tinggi timbul mendadak, terus menerus, berlangsung dua sampai tujuh hari turun secara cepat.
2. Perdarahan : perdarahan disini terjadi akibat berkurangnya trombosit (trombositopeni) serta gangguan fungsi dari trombosit sendiri akibat metamorfosis trombosit. Perdarahan dapat terjadi di semua organ yang berupa:
• Uji torniquet positif
• Ptekie, purpura, echymosis dan perdarahan konjungtiva
• Epistaksis dan perdarahan gusi
• Hematemesis, melena
• Hematuri
3. Hepatomegali :
• Biasanya dijumpai pada awal penyakit
• Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
• Nyeri tekan pada daerah ulu hati
• Tanpa diikuti dengan ikterus
• Pembesaran ini diduga berkaitan dengan strain serotipe virus dengue

4. Syok : Yang dikenal dengan DSS , disebabkan oleh karena : Perdarahan dan kebocoran plasma didaerah intravaskuler melalui kapiler yang rusak. Sedangkan tanda-tanda syok adalah:
• Kulit dingin, lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki
• Gelisah dan Sianosis disekitar mulut
• Nadi cepat, lemah , kecil sampai tidak teraba
• Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang dari 80 mmHg)
• Tekanan nadi menurun (sampai 20mmHg atau kurang)
5. Trombositopeni: Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3 yang biasanya terjadi pada hari ke tiga sampai ke tujuh.

6. Hemokonsentrasi : Meningkatnya nilai hematokrit merupakan indikator kemungkinan terjadinya syok.
7. Gejala-gejala lain :
• Anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare atau konstipasi serta kejang.
Penurunan kesadaran
E. Pathway
F. Komplikasi
• DHF disertai pembesaran hati
• Leukositosis
• Limpodenopati

G. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorim terutama
• Trombositopeni : < 100.000/mm3
• Hemokonsentrasi : Kenaikan hematokrit 20 %
1. Foto roentgen
Gambaran foto torak efusi pleura

2. Urine rutin
Mungkin ditemikan albuminuria ringan
3. Sumsum tulang
Pada awal-awal sakit biasanya hiposeluler pada hari ke 5
4. Serologi
Uji serologi untuk infeksi dengue di kategorikan atas 2 kelompok besar : yaitu uji serologi memakai serum ganda dan uji serologi memakai serum tunggal

H. Penatalaksanaan
1. Tirah baring
2. Makanan lunak : bila belum ada nafsu makan dianjurkan minum banyak 1,5 – 2 liter dalam 24 jam ( suhu, air putih, air dengan gula/ syrup) atau ditambah dengan garam.
3. Medikamentosa yang bersifat simtomatik untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es di kepala, keriak atau inguinal, anti piretik sebaiknya dari golongan asetaminofen, bukinin atau difiron
4. Antibiotic diberikan bila terdapat infeksi sekunder
5. Observasi meliputi pemeriksaan setiap jam terdapat keadaan umum, TTV serta Hb, Ht dan trombosit setiap 4-6 jam pada hari pertama pengamatan ditemukan adanya rejatan.
6. Terapi cairan (NaCl, RL) dan plasma untuk mengembalikan volume cairan intravaskuler ke tingkat normal , dipertahankan 12-48 jam setelah renjatan terjadi
7. Tranfusi darah dilakukan pada
ф Pasien dengan pendarahan membahayakan (bemeromesis dan melena)
ф Pasien DSS pada pemeriksaan berskala menunjukan kadar Hb dan Ht




I. Diagnosa keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler pendarahan, muntah dan demam
2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pendarahan
3. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan penurunan nafsu makan.
4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi










Diagnosa Keperawatan :
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN HASIL YANG
DIHARAPKAN RENCANA
TINDAKAN RASIONAL
1.




















































2.


















































3.














































4.





































































5.







































6.



























































7.



























































































































8.



















































































9.













Peningkatan suhu tubuh (hiper-termia) sehubungan dengan pro-ses penyakit (viremia).

















































Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan se-hubungan dengan mual, muntah, anoreksia & sakit saat menelan.













































Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan & obat-obatan pasien sehubung-an dengan kurangnya informasi.










































Potensial terjadinya perdarahan lebih lanjut sehubungan dengan trombositopenia.


































































Gangguan aktifitas sehari-hari se-hubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.





































Gangguan rasa nyaman: nyeri sehubungan dengan mekanisme patologis (proses penyakit).
























































Potensial terjadi syok hipovole-
mik sehubungan dengan perda-rahan hebat.
























































































































Koping individu yang tidak efek-tif sehubungan dengan perawatan di rumah sakit.

















































































Potensial terjadi reaksi tranfusi sehubungan dengan pemberian tranfusi.












-Suhu tubuh normal (36-37oC).
-Pasien bebas dari demam.


















































Kebutuhan nutrisi pasien ter-penuhi; pasien mampu meng-habiskan makanan sesuai de-ngan porsi yang diberikan/di-butuhkan.














































Pengetahuan pasien/keluarga tentang proses penyakit, diet, perawatan & obat-obatan bagi penderita DHF meningkat serta pasien/keluarga mampu menceritakannya kembali.







































-Tidak terjadi tanda-tanda per-darahan lebih lanjut (secara klinis).
-Jumlah trombosit meningkat.

































































-Kebutuhan aktifitas sehari-hari terpenuhi.
-Pasien mampu mandiri sete-lah bebas demam.




































-Rasa nyaman pasien terpenu-hi.
-Nyeri berkurang atau hilang.
























































-Tidak terjadi syok hipovole- mik.
-Tanda-tanda vital dalam ba-tas normal.
-Keadaan umum baik.























































































































Pasien dapat:
-mengungkapkan perasaannya selama dirawatdi rumah sakit.
-mengidentifikasi kekuatan di-rinya.
-mengidentifikasi koping yang efektif.
-mengidentifikasi & meman-faatkan sumber-sumber eks-ternal.
-menetapkan cara mengatasi masalah selama dirawat di rumah sakit.






































































Reaksi tranfusi tidak terjadi.






















1. Mengkaji saat timbulnya de-mam.

2. Mengobservasi tanda-tanda vi-tal: suhu, nadi, tensi, pernapas-an setiap 3 jam atau lebih se-ring.

3. Memberikan penjelasan tentang penyebab demam atau pening-katan suhu tubuh.



4. Memberikan penjelasan pada pasien/keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam & mengan- jurkan pasien/keluarga untuk kooperatif.

5. Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien & akibatnya jika hal tersebut tidak dilaku-kan.

6. Menganjurkan pasien untuk ba-nyak minum  2,5 l/24 jam & jelaskan manfaatnya bagi pasi-en.


7. Memberikan kompres dingin (pada daerah axila & lipat pa-ha).

8. Menganjurkan untuk tidak memakai selimut & pakaian yang tebal.

9. Mencatat asupan & keluaran.


10. Memberikan terapi cairan in-travena & obat-obatan sesuai dengan program dokter (masa-lah kolaborasi).





1. Mengkaji keluhan mual, sakit menelan & muntah yang diala-mi oleh pasien.

2. Mengkaji cara/bagaimana ma-kanan dihidangkan.


3. Memberikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur, tim & dihidangkan saat masih hangat.

4. Memberikan makanan dalam porsi kecil & frekuensi sering.

5. Menjelaskan manfaat makanan/ nutrisi bagi pasien terutama sa-at pasien sakit.


6. Memberikan umpan balik posi-tif saat pasien mau berusaha menghabiskan makanannya.

7. Mencatat jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien se-tiap hari.

8. Memberikan nutrisi parenteral (kolaborasi dengan dokter).





9. Memberikan obat-obat antasi-da (anti emetik) sesuai prog-
ram dokter.

10. Mengukur berat badan pasien setiap hari (bila mungkin).

1. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penya- kit DHF.









2. Mengkaji latar belakang pendi-dikan pasien/keluarga.






3. Menjelaskan tentang proses pe-nyakit, diet, perawatan & obat-obatan pada pasien dengan ba-hasa & kata-kata yang mudah dimengerti/dipahami.

4. Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan & manfaat nya bagi pasien.



5. Memberikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk mena-nyakan hal-hal yang ingin dike-tahui sehubungan dengan pe-
nyakit yang dialami pasien.

6. Menggunakan leaflet atau gam-bar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada/memung-kinkan).



1. Memonitor tanda-tanda penu-runan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.






2. Memberikan penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada pasien.





3. Memonitor jumlah trombosit setiap hari.






4. Menganjurkan pasien untuk ba-nyak istirahat.



5. Memberikan penjelasan pada pasien/keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan lebih lanjut seperti: hematemesis, melena, epistak-sis.


6. Menjelaskan obat-obat yang di berikan & manfaatnya serta a-kibatnya bagi pasien.




7. Mengantisipasi/mencegah terja-dinya perlukaan atau perdarah-an:
- menggunakan sikat gigi lunak.
- memelihara kebersihan mu-lut.
- menghindari tindakan inva-sif melalui rektum seperti: pemberian obat suppositoria, enema, rektal termometer.
- menggunakan pencukur lis-trik (jika pasien butuh bercu-kur).
- memberikan tekanan 5-10 menit setiap kali selesai mengambil darah
1. Mengkaji keluhan pasien.


2. Mengkaji hal-hal yang mampu/ tidak mampu dilakukan oleh pasien sehubungan dengan ke-lemahan fisiknya.



3. Membantu pasien memenuhi kebutuhan aktifitasnya sehari-hari sesuai dengan tingkat ke-terbatasan pasien seperti mandi, makan, eliminasi.




4. Membantu pasien untukk man- diri sesuai dengan perkembang-an kemajuan fisiknya.


5. Memberi penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu & meningkatkan kekuatan fisik pasien.


6. Meletakkan barang-barang ditempat yang mudah terjang-kau oleh pasien.

7. Menyiapkan bel di dekat pasien


1. Mengkaji tingkat nyeri yang di alami pasien dengan memberi rentang nyeri (0-10), biarkan pasien menentukan tingkat nye-
ri yang dialaminya, tetapkan ti-
pe nyeri yang dialami pasien, respons pasien terhadap nyeri yang dialami.

2. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri (budaya, pendi-dikan, dll).


















3. Memberikan posisi yang nya-man, usahakan situasi ruangan yang tenang.

4. Memberikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri (libatkan keluarga). Menganjurkan pa-sien untuk membaca buku, mendengar musik, nonton TV (mengalihkan perhatian).

5. Memberikan kesempatan pada pasien untuk berkomunikasi dengan teman-temannya/orang terdekat.


6. Memberikan obat-obat analge-tik (kolaborasi dokter).






1. Monitor keadaan umum pasien.










2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2-3 jam.








3. Monitor tanda-tanda perdarahan





4. Jelaskan pada pasien/keluarga tentang tanda-tanda perdarahan yang mungkin dialami pasien.





5. Anjurkan pasien/keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan.





6. Pasang infus, beri terapi cairan intravena jika terjadi perdarah-an (kolaborasi dengan dokter).





7. Segera puasakan jika terjadi perdarahan saluran pencernaan.



8. Cek Hb, Ht, trombosit (sito).






9. Perhatikan keluhan pasien se-perti mata berkunang-kunang, pusing, lemah, ekstremitas di-ngin, sesak nafas.


10. Berikan tranfusi sesuai dengan program dokter.



11. Monitor masukan & keluaran, catat & ukur perdarahan yang terjadi, produksi urin.









12. Berikan obat-obatan untuk mengatasi perdarahan sesuai dengan program dokter.

13. Bila terjadi tanda-tanda syok hipovolemik, baringkan pasien terlentang atau posisi datar.

14. Berikan terapi oksige sesuai dengan kebutuhan.




15. Segera lapor dokter jika tam-pak tanda-tanda syok hipovo- lemik & observasi ketat pasien serta percepat tetesan infus sambil menunggu program dokter selanjutnya.




1. Membina hubungan saling per-caya dengan pasien.





2. Bekomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien & melindungi pasien da-ri situasi stress.







3. Beri kesempatan & dorongan pada pasien untuk mengungkap kan perasaaan & persepsinya.









4. Membantu pasien mengkaji & mengidentifikasi situasi & ma-salah yang timbul saat ini.





5. Membantu pasien mengidenti-fikasi koping sebelumnya baik yang efektif maupun yang tidak efektif.







6. Bantu pasien menilai kekuatan dirinya & kemungkinan peme-cahan masalah.


7. Mendiskusikan koping yang e-fektif yang akan digunakan.





8. Libatkan pasien dalam perawat-an dirinya.



9. Jelaskan proses penyakit, hasil pemeriksaan laboratorium, test diagnosis lain & pengobatan yang diberikan (kolaborasi de-ngan dokter).

10. Jelaskan tiap tindakan kepera-watan yang akan dilakukan pada pasien & beritahukan manfaatnya.

11. Libatkan keluarga terutama dalam memberikan dorongan pada pasien.

1. Pesan darah/komponen darah sesuai dengan instruksi medis.



2. Cek ulang formulir permintaan darah sebelum dikirim.



3. Sebelum pemberian tranfusi ya-kinkan bahwa daerah tusukan infus tidak tampak tanda-tanda plebitis & aliran infus lancar.

4. Gunakan Blood Set untuk pem-berian tranfusi.





Untuk mengidentifikasi pola demam pasien.

Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kea-daan umum pasien.

Penjelasan tentang kondisi yang dialami pasien dapat membantu pasien/keluarga mengurangi kecemasan yang timbul.

Keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyem-buhan pasien di rumah sakit.




Penjelasan yang diberikan pada pasien/keluarga akan memotivasi pasien untuk koo-peratif.

Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asup-an cairan yang banyak.

Kompres dingin akan mem- bantu menurunkan suhu tubuh

Pakaian yang tipis akan mem-bantu mengurangi penguapan tubuh.

Untuk mengetahui adanya ke-tidakseimbangan cairan tubuh.
Pemberian cairan sangat pen-ting bagi pasien dengan suhu tinggi. Pemberian cairan me-rupakan wewenang dokter sehingga perawat perlu ber- kolaborasi dalam hal ini.


Untuk menetapkan cara me-ngatasinya.


Cara menghidangkan makan-an dapat mempengaruhi nafsu makan pasien.
Membantu mengurangi kele-lahan pasien & meningkatkan asupan makanan karena mu-dah ditelan.
Untuk menghindari mual & muntah.

Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehing-ga motivasi untuk makan me-ningkat.

Memotivasi & meningkatkan semangat pasien.


Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien.


Nutrisi parenteral sangat ber-manfaat/dibutuhkan pasien te-rutama jika intake per oral sa- ngat kurang. Jenis & jumlah pemberian nutrisi parenteral merupakan wewenang dokter.


obat antasida (anti emetik) membantu pasien mengurangi rasa mual & muntah. Dengan pemberian obat tersebut diha-rapkan intake nutrisi pasien meningkat.
Untuk mengetahui status gizi pasien.



Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit yang diketa-hui pasien serta kebenaran in-formasi yang telah didapatkan sebelumnya.

Agar perawat dapat memberi-kan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan mereka se-hingga penjelasan dapat dipa-hami & tujuan yang direncana
kan tercapai.

Agar informasi dapat diterima dengan mudah & tepat sehing- ga tidak menimbulkan kesalah pahaman.


Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang akan diala-mi, pasien akan lebih koopera-tif & kecemasannya menurun.

Mengurangi kecemasan & memotivasi pasien untuk koo-peratif selama masa perawat-an atau penyembuhan.


Gambar-gambar atau media cetak seperti leaflet dapat membantu mengingat penje-lasan yang telah diberikan ka-rena dapat dilihat atau dibaca berulang kali.

Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda-tanda ada-nya kebocoran pembuluh da-rah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tan-da klinis berupa perdarahan (nyata) seperti epistaksis, pe-tikiae, dll.

Agar pasien/keluarga menge-tahui hal-hal yang mungkin terjadi pada pasien & dapat membantu mengantisipasi terjadinya perdarahan karena trombositopenia.

Dengan jumlah trombosit yang dipantau setiap hari, da-pat diketahui tingkat kebocor-
an pembuluh darah & ke-mungkinan perdarahan yang dapat dialami pasien.

Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

Keterlibatan keluarga dengan segera melaporkan terjadinya perdarahan (nyata) akan mem-bantu pasien mendapatkan pe-nanganan sedini mungkin.


Dengan mengetahui obat-obatan yang diminum & man-faatnya, maka pasien akan ter-motivasi untuk mau minum o-bat sesuai dosis atau jumlah yang diberikan.


















Untuk mengidentifikasi masa-lah-masalah pasien.


Untuk mengetahui tingkat ke-tergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Pemberian bantuan sangat di perlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah & perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mem-buat pasien mengalami keter-gantungan pada perawat.

Dengan melatih kemandirian pasien maka pasien tidak me-ngalami ketergantungan pada perawat.

Dengan penjelasan yang dibe-rikan kepada pasien, maka pa-sien termotivasi untuk koo-peratif selama perawatan ter-utama terhadap tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya seperti pasien mau menghabiskan porsi makan-nya.

Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sen-diri tanpa orang lain.





Agar pasien dapat segera me-minta bantuan perawat saat membutuhkannya.

Untuk mengetahui berapa be-rat nyeri yang dialami pasien.








Reaksi pasien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berba-gai faktor, dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan in-tervensi yang sesuai dengan masalah klien. Respon indi-vidu terhadap nyeri sangat berbeda atau bervariasi, se-hingga perawat perlu mengka-ji lebih lanjut menghindari kesalahan persepsi terhadap kondisi yang dialami pasien. Misalnya pasien yang berteri-ak karena nyeri belum tentu mengalami nyeri yang lebih hebat dari pasien lain yang menutup mata, menggigit bi-bir atau berpegangan erat.

Untuk mengurangi rasa nyeri.


Dengan melakukan aktifitas lain, pasien dapat sedikit me-lupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.





Tetap berhubungan dengan orang-orang terdekat/teman membuat pasien gembira/ba-hagia & dapat mengalihkan perhatiannya terhadap nyeri.

Obat-obatan analgetik dapat menekan/mengurangi nyeri pasien. Perlu adanya kolabo-rasi dengan dokter karena pemberian obat merupakan wewenang dokter.

Untuk memantau kondisi pa-sien selama masa perawatan terutama saat terjadi perdarah-an. Dengan memonitor kea-daan umum pasien, perawat dapat segera mengetahui jika terjadi tanda-tanda pre syok/ syok sehingga dapat segera di tangani.


Tanda vital dalam batas nor-mal menandakan keadaan u-mum pasien baik, perawat perlu terus mengobservasi tan-da-tanda vital selama pasien mengalami perdarahan untuk memastikan tidak terjadi pre syok/syok.

Perdarahan yang cepat diketa-hui dapat segera diatasi, se-hingga pasien tidak sampai ke tahap syok hipovolemik akibat
perdarahan hebat.

Dengan memberi penjelasan & melibatkan keluarga diha-rapkan tanda-tanda perdarah-an dapat diketahui lebih cepat & pasien/keluarga menjadi kooperatif selalma pasien di rawat.

Keterlibatan keluarga untuk segera melaporkan jika terjadi perdarahan terhadap pasien sangat membantu tim pera-watan untuk segera melaku-kan tindakan yang tepat.

Pemberian cairan intravena sangat diperlukan untuk me-ngatasi kehilangan cairan tu-buh yang hebat yaitu untuk mengatasi syok hipovolemik. Pemberian infus dilakukan dengan kolaborasi dokter.

Puasa membantu mengistira-hatkan saluran pencernaan un-tuk sementara selama perda-rahan berasal dari saluran cer-na.

Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien & untuk acuan melakukan tindakan le-bih lanjut terhadap perdarahan tersebut.

Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh perdarahan ter-sebut pada pasien sehingga tim kesehatan lebih waspada.

Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang.

Pengukuran & pencatatan sa-ngat penting untuk mengeta-hui jumlah perdarahan yang dialami pasien. Untuk menge-tahui keseimbangan cairan tu-buh.
Produksi urin yang lebih pekat & lebih sedikit dari normal (sangat sedikit) menunjukkan pasien kekurangan cairan & mengalami syok. Hati-hati terhadap perdarahan di dalam.

Untuk membantu menghenti-kan perdarahan.




Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk.





Pemberian O2 akan membantu oksigenasi jaringan, karena dengan terjadinya perdarahan hebat maka suplai oksigen ke jaringan terganggu.

Untuk mendapatkan pena-nganan lebih lanjut sesegera mungkin.







Hubungan saling percaya antar pasien-perawat sangat penting & merupakan hal yang mendasar dalam pembe-rian asuhan keperawatan.

Bahasa yang sederhana, jelas & mudah dimengerti akan sangat membantu pasien me-mahami setiap penjelasan atau informasi yang diterimanya sehingga terhindar dari kesa-lahpahaman informasi yang dapat memperburuk kondisi-nya.

Stressor yang meningkat da-pat menambah beban bagi pa-sien sehingga perawat perlu melindungi pasien dari situasi stres yang tidak perlu. Pera-wat dapat membantu meng-
hindari stres dengan melibat-kan keluarga karena seringkali sumber dari stressor tersebut adalah keluarganya.

Pasien butuh seseorang untuk mendengarkan & mengerti perasaannya sehingga perawat harus mampu menunjukkan rasa empati & menjadi pende-ngar yang baik.

Identifikasi masalah adalah hal yang penting bagi pasien & dengan bantuan perawat maka pasien menyadari masa-lah yang dihadapinya.
Hal ini dapat membantu pasi-en menentukan tindakan mana yang baik & mana yang buruk dalam mengatasi masalahnya.

Pasien perlu menyadari keku-atan yang dimilikinya atau hal-hal positif yang dapat di lakukannya untuk memecah-kan masalahnya.

Diskusi tentang koping efektif yang akan digunakan oleh pa-sien akan sangat berarti bagi pasien & akan memberikan dampak yang positif bagi pa-sien.

Hal ini akan mendorong pasi-en untuk bersikap kooperatif & merasa lebih berarti.

Dengan mengetahui kondisi-nya, pasien akan dapat meng-antisipasi hal-hal yang akan di alaminya.



Penjelasan informasi sebelum tindakan dilakukan akan membantu mengurangi kece-masan pasien.

Dukungan keluarga/orang ter-dekat akan sangat berarti bagi pasien & memberikan sema-ngat bagi pasien
Golongan darah yang tidak se-suai akan membahayakan pa-sien bahkan dapat mengakibat kan hal yang fatal.

Pengecekkan ulang amat di perlukan untuk meyakinkan bahwa permintaan darah sesu-ai dengan yang ditulis pada formulir permintaan.

Untuk meyakinkan bahwa tranfusi dapat diberikan deng-an lancar.



Agar darah dapat menetes de-ngan lancar & tidak membeku (infus set biasanya tidak dapat dipaksa untuk pemberian tran-fusi.

0 komentar:

Poskan Komentar